Medan (WartaDhana.Com): Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 menerima kunjungan kerja Komisi VII DPR RI yang dipimpin oleh Dr. Evita Nursanty, M.Sc. Kunjungan tersebut menjadi momentum bagi penyelenggara untuk memaparkan arah transformasi PRSU sebagai etalase perdagangan, investasi, budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif Sumatera Utara yang dikelola secara profesional dan berkelanjutan.
Direktur Utama PPSU menyampaikan bahwa usia emas penyelenggaraan PRSU menjadi titik awal perubahan besar dalam membangun kembali identitas PRSU sebagai panggung utama Sumatera Utara.
“Transformasi yang kami lakukan bukan sekadar mengubah konsep acara, tetapi mengembalikan marwah PRSU sebagai etalase utama Sumatera Utara. PRSU kami arahkan menjadi ruang promosi budaya, perdagangan, investasi, pariwisata, dan ekonomi kreatif yang mampu memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya didampingi Gubsu Bobby Afif Nasution, Bupati Tapsel, Kadis Perhubungan Sumut Yudha, Direktur Utama PPSUĀ dan Ketua FWP Sumut Syaiful Defaza Kamis (9/7/2026).
Dikatakannya, pada penyelenggaraan tahun ini, PRSU menghadirkan 33 paviliun kabupaten/kota serta 1 paviliun negara sahabat, Pulau Pinang, Malaysia, sebagai representasi potensi daerah dan ruang promosi bagi produk unggulan, investasi, serta kekayaan budaya Sumatera Utara.
Direktur Utama PPSU juga mengatakan, PRSU ke-50 juga diselenggarakan tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Seluruh penyelenggaraan dibangun melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan sebagai bagian dari upaya mewujudkan tata kelola yang mandiri, profesional, transparan, dan berkelanjutan.
Sebagai bagian dari transformasi tersebut, sekitar 75 persen konten yang ditampilkan berasal dari putra-putri Sumatera Utara, mulai dari seniman, budayawan, pelaku UMKM, komunitas kreatif, hingga talenta lokal. Penyelenggara menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bentuk komitmen untuk menjadikan PRSU sebagai panggung utama bagi karya masyarakat Sumatera Utara.
“Kehadiran artis nasional tetap menjadi bagian dari rangkaian acara, namun posisinya adalah sebagai pelengkap. Nilai utama PRSU tetap berada pada budaya, kreativitas, dan potensi daerah. Kami ingin masyarakat datang karena bangga terhadap Sumatera Utara, bukan semata-mata untuk menikmati konser,” jelas Direktur Utama PPSU.
Menanggapi berbagai aspirasi masyarakat terkait harga tiket masuk, penyelenggara menyampaikan bahwa seluruh masukan akan menjadi bagian dari evaluasi berkelanjutan. Ke depan, kajian akan dilakukan bersama seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan jumlah kunjungan, memperluas jangkauan promosi, dan memperkuat eksposur PRSU kepada masyarakat.
Menurut penyelenggara, harga tiket tidak hanya dipandang sebagai biaya masuk, tetapi juga merupakan bagian dari investasi untuk mendukung penyelenggaraan yang berkualitas, pengembangan ekosistem budaya, ekonomi kreatif, serta pemberdayaan pelaku UMKM di Sumatera Utara.
Terkait pengelolaan parkir, penyelenggara menjelaskan bahwa area parkir resmi di dalam kawasan PRSU memiliki kapasitas yang terbatas dengan tarif yang wajar. Sementara itu, meningkatnya jumlah pengunjung, khususnya pada akhir pekan dan saat pertunjukan utama, menyebabkan kebutuhan parkir melampaui kapasitas yang tersedia sehingga memanfaatkan kantong-kantong parkir di luar kawasan yang dikelola oleh berbagai pihak.
Panitia telah melakukan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, aparat terkait, dan masyarakat sekitar untuk meningkatkan ketertiban pengelolaan parkir. Namun demikian, penyelenggara menegaskan bahwa kantong parkir di luar kawasan resmi PRSU tidak seluruhnya berada dalam kewenangan panitia. Meski demikian, seluruh masukan masyarakat akan menjadi bahan evaluasi untuk membangun sistem parkir yang lebih terintegrasi, tertib, transparan, dan memberikan kepastian kepada pengunjung.
Sebagai bagian dari peningkatan pelayanan, PRSU juga menyediakan jalur khusus bagi transportasi berbasis aplikasi dengan titik drop-off dan pick-up yang telah diatur secara khusus guna menjaga kelancaran arus lalu lintas dan memberikan kemudahan akses bagi pengunjung.
Direktur Utama PPSU menegaskan bahwa transformasi yang sedang dilakukan juga mencakup pembenahan tata kelola penyelenggaraan.
“Ke depan kami ingin PRSU dikenal bukan lagi sebagai pasar malam, melainkan sebagai trade fair yang profesional, modern, dan memiliki tata kelola yang memenuhi standar nasional. Kepercayaan investor tidak hanya dibangun melalui jumlah pengunjung, tetapi juga melalui profesionalisme penyelenggaraan, kualitas layanan, keamanan, serta kredibilitas pengelolanya,” katanya.
Melalui tata kelola yang semakin profesional, transparan, dan akuntabel, PRSU menargetkan peningkatan partisipasi perusahaan nasional, BUMN, investor, dan pelaku industri sebagai bagian dari penguatan fungsi PRSU sebagai platform promosi perdagangan dan investasi.
Penyelenggara menegaskan bahwa tata kelola yang profesional merupakan gerbang utama masuknya investasi. Kepercayaan investor tidak hanya dibangun melalui tingginya jumlah pengunjung (traffic), tetapi juga melalui kualitas penyelenggaraan, kepastian layanan, integritas pengelolaan, serta komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam menghadirkan sebuah event yang dikelola sesuai standar nasional.
Karena itu, transformasi PRSU tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah pengunjung, tetapi juga pada pembenahan sistem dan tata kelola secara menyeluruh. Dengan dukungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, DPR RI, DPRD, dunia usaha, media, aparat keamanan, dan seluruh elemen masyarakat, PRSU diharapkan mampu berkembang menjadi platform perdagangan dan investasi yang kredibel, modern, dan berdaya saing, sehingga semakin dipercaya sebagai wadah promosi bagi produk, investasi, dan potensi Sumatera Utara di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam kesempatan tersebut, penyelenggara juga menyampaikan harapan kepada Komisi VII DPR RI agar terus mendukung transformasi PRSU melalui penguatan kebijakan, fasilitasi kolaborasi dengan kementerian dan lembaga terkait, serta mendorong keterlibatan dunia usaha dalam penyelenggaraan PRSU.
Penyelenggara optimistis bahwa dengan dukungan pemerintah, DPR RI, DPRD, dunia usaha, media, dan seluruh pemangku kepentingan, PRSU dapat berkembang menjadi agenda strategis nasional yang tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Utara, tetapi juga menjadi pusat promosi perdagangan, investasi, budaya, dan ekonomi kreatif yang mampu bersaing di tingkat nasional bahkan regional. (Red)