16 Juli 2024

Medan (WartaDhana.Com): Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menilai pemahaman resiko bencana saat ini penting  terus disosialisasikan di tengah-tengah masyarakat.

Hal itu dikarenakan banyaknya bencana melanda beberapa wilayah Indonesia selama lima tahun terakhir.

“Kami sampaikan selama lima tahun ini kejadian bencana di Indonesia cukup tinggi, ada 17 ribu kali dengan sedikitnya 6 juta korban jiwa,” kata  Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Dr Raditya Jati pada acara sosialisasi penyusunan pemetaan resiko bencana DAS Asahan Toba, di Hotel Santika Medan, Senin (10/4).

Meskipun 98 persen akibat  hidrometeorologi, terdampak banjir bandang dan longsor,  namun sebut dia korban meninggal paling banyak akibat gempa bumi. 

Terkait hal ini BNPB terus melakukan sosialisasi pemahaman resiko bencana. 

Pemahaman resiko ini, sebut dia menjadi yang pertama dan bukan hanya sekedar tahu peta wilayah bencana, melainkan harus dipahami oleh masyarakat secara kolektif.

Raditya juga menyebutkan, untuk sejumlah kawasan wisata seperti di wilayah Danau Toba pemahaman resiko bencana penting karena bukan hanya diisi orang daerah, namun ada pendatang dan wisatawan yang mungkin tidak memahami kultur wilayah itu. 

“Makanya pemahaman reskio itu harus benar-benar  jadi target dan ini  harus serius,” ujarnya.

Pada kegiatan sosialisi yang turut dihadiri anggota komisi VIII  DPR-RI Iskan Qolba Lubis juga dibahas tentang pentingnya asuransi bencana, termasuk penguatan bangunan dan sejumlah bangunan sarana dan prasarana di wilayah rawan bencana.

Raditya  juga menyebutkan  sedikitnya ada 12 ancaman bencana alam di sejumlah wilayah di Indonesia termasuk di Sumut. Ke 12 ancaman bencana itu diantaranya, tsunami, gempa bumi, banjir, longsor dan cuaca ekstrim. “Hampir semua wilayah menjadi ancaman. Namun biasanya baru dikatakan bencana apabila ada korban jiwa, sedangkan jika tidak kita hanya mengatakan sebagai fenomena alam biasa,” sebutnya.

Sementara itu, Iskan Qolba Lubis menjelaskan bahwa pemahaman masyarakat tentang bencana alam juga terkesan masih lemah, bahkan persepsi dalam menanggapinya juga masih berbeda-berbeda,

“Misalnya ada yang sengaja bikin rumah dipinggir sungai atau laut, padahal kalau terjadi banjir yang salam siapa,” ucapnya.

Kegiatan itu juga dihadiri Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut Tuahta Ramajaya Saragih dan Sekretaris Ir Herianto. (Winda)