16 Juli 2024
Teks foto: Lokasi PETI di Kecamatan Batang Natal

Medan (WartaDhana.Com): Dewan Pengurus Wilayah Lembaga Swadaya Masyarakat Lumbung Informasi Rakyat (DPW LSM LIRA) Sumatera Utara menilai, meluasnya Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Madina (Mandailing Natal) mengindikasikan kekurang pedulian pemerintah setempat terhadap kesejahteraan masyarakat dan lingkungan hidup.


Kekurang pedulian pemerintah setempat ini, memicu masyarakat untuk mencari alternatif lain untuk menambah penghasilan ataupun penghasilan tetap untuk menopang kehidupannya.
“Kondisi ini tentunya menjadi celah bagi para mafia berkedok pemodal untuk mengeksploitasi masyarakat menggali sejumlah titik kawasan yang dianggap memiliki kandungan emas”,ujar Sekretaris Wilayah LSM LIRA, Andi Nasution, Selasa (18/06/2024).


Akibatnya, lanjut Andi Nasution, kondisi alam dan lingkungan di sejumlah kawasan di Kabupaten Madina menjadi porak poranda. Kawasann yang awalnya dapat dijadikan lahan bercocok tanam, sama sekali tidak memiliki nilai manfaat.


Apakah dengan adanya PETI ekonomi masyarakat meningkat  secara signifikan ? “Tidak juga, bahkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Madina masih berada pada kelompok 10 besar terbawah dari 33 kabupaten/kota yang ada di Sumatera Utara.


“Survei Sosial Ekonomi Nasional yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, Angka Partisipasi Murni masyarakat yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, hanya berada pada point 14,89 dan jauh berada di bawah Padang Sidempuan, Padang Lawas maupun Tapanuli Selatan”,ujarnya.


Kondisi ini, lanjut Andi, mengindikasikan bahwa dengan kekayaan alam berlimpah, Pemkab Madina kurang memiliki kemampuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.


“Masih segar dalam ingatan, ratusan warga Kotanopan mendatangi Polsek Kotanopan, jelang Idul Fitri untuk meminta PETI jangan ditutup. Masyarakat beralasan, besarnya kebutuhan Ramadhan dan jelang Idul Fitri. Ini mengindikasikan, warga mengalami kesulitan ekonomi”,paparnya.

Teks foto: Terlihat salah satu beko di lokasi PETI di Kecamatan Batang Natal


LIRA berharap, Pemkab Madina mendistribusikan lahan tanaman pangan kepada masyarakat secara proporsional untuk kesejahteraan masyarakatnya.“Tidak seperti sekarang ini, luasan tanaman pangan justru mengalami penyusutan sampai seribu hektar lebih sejak tahun 2022”,ujarnya.


Sebelumnya, Polres Kabupaten Madina yang langsung dipimpin oleh Kapolres sudah berhasil menghentikan (penertiban) aktivitas PETI di Wilayah Kota Nopan. 
Namun, disebut- sebut lokasi PETI yang masih beroperasi di wilayah Kecamatan Batang Natal, Kecamatan Ranto Baek dan Muara Batang Gadis masih beroperasi.

Diduga lokasi PETI terdapat di Desa Jambur Torop Kecamatan  Batang Natal yang diduga  terdapat 4 alat beko masing-masing 4 orang pemilik beko, demikian halnya juga Desa Aek Baru Julu Kecamatan Batang Natal, terdapat  1 beko. 


Sementara itu, sebelumnya Kapolres Kabupaten Madina  AKBP Arie Sofandi Paloh SH, SIK menjelaskan, dalam hal penertiban lokasi PETI kita selaku aparat tidak pernah pandang bulu. 


“Seluruh lokasi-lokasi PETI pasti akan kita tertibkan tanpa terkecuali,” ujar Kapolres kepada WartaDhana melalui telefon seluler, Minggu (16/6/2024). (Winda)