26 Februari 2024


Medan (WartaDhana.Com): Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Utara (Sumut) Asren Nasution meminta kepada Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI)  agar bertanggung jawab terhadap kualitas pembelajaran dan pengajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah, yakni dengan memperkaya bahan ajaran untuk anak didik.


Hal ini disampaikannya saat membuka Muzakarah Pengembangan Kompetensi GPAI Sumut dengan tema ‘Nilai Isra Mikraj Membentuk Karakter Jujur, Benar, Berani, Tulus dan Ikhlas Menuju Peserta Didik yang  Bermartabat’ yang berlangsung di Aula Tengku Rizal Nurdin, Jalan Jenderal Sudirman Nomor 41 Medan, Sabtu (25/2).


“Gubernur memberikan atensi yang tinggi dan dukungan penuh dalam pengembangan guru agama Islam untuk mencetak anak didik yang religius dan bermartabat. Guru PAI harus memiliki tanggung jawab pada kualitas pendidikan di sekolah,” ucap Asren Nasution. 


Hadir di antaranya Guru Besar Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN SU) Medan Muzakkir, Ketua Forum Pengembangan Kompetensi Guru PAI Sumut Raudatus Shafa, serta 400 peserta GPAI SMA/SMK/SLB di Wilayah Cabang Dinas 1, 2, 3 (Medan, Deliserdang, Binjai, Langkat, Serdang Bedagai).


Menurut Asren, dengan kegiatan ini tentunya diharapkan para Guru PAI dapat memperkaya bahan ajar atau materi pembelajaran yang diberikan kepada  anak didik nantinya.


“Kita targetkan muzakarah akan dilaksanakan setiap bulannya dan diharapkan setiap materi yang disampaikan akan dijadikan buku untuk memperkaya bahan ajar kepada anak didik,” katanya.


Senada, Ketua Forum Pengembangan Kompetensi Guru PAI Sumut Raudatus Shafa berharap,  dengan adanya muzakarah ini dapat meningkatkan kompetensi guru. Pertemuan perdana ini untuk mengintervensi dan mendongkrak semangat guru PAI untuk terus meningkatkan diri dan kualitas pendidikan.

Sementara itu, Guru Besar UIN Sumut Muzakkir yang memberikan materi sesuai tema pada kegiatan ini menyampaikan,  bahwa peristiwa Isra Mikraj menjadi inspirasi pengembangan keilmuan bagi umat manusia berdasarkan pendekatan ketuhanan dan keilmuan yang berjalan seiring.


“Dalilnya dapat kita lihat di Alquran Surah Al-Isra ayat 1, yang mengajarkan kita teologi dan saintifik yang luar biasa,” katanya.


Isra Mikraj merupakan kekuatan dan spirit baru bagi Nabi Mahammad SAW dalam menghadapi tantangan umat di medan dakwah. “Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yakni dari tempat mulia ke tempat mulia berikutnya,” katanya.


Selain itu, dalam perjalan menembus batas ini dari Masjidil Aqsha ke langit untuk menerima perintah salat. Selain itu, perjalanan ke langit ini untuk melihat kebesaran Allah SWT yang akan menjadi semangat baru dibalik kesedihan yang dihadapi Nabi.


Menurut Muzakkir hakikat yang diambil dari perintah salat 5 waktu itu adalah Muroqabah yakni merasakan pengawasan dari Allah SWT, kemudian salat mengajarkan keberanian dalam kebenaran, hanya takut pada Allah SWT dan takut melakukan kebatilan.


Hakikat salat selanjutnya adalah membangun kejujuran dan moralitas, terhindar dari fahsya dan mungkar, dan yang terakhir salat merupakan sebagai penyejuk hati serrta mencerdaskan emosional. (Winda)